Sumenep- Puluhan tokoh Bani Walisongo se- Jawa Madura sejak kemarin hingga tadi malam bertemu di Ponpes Nurul Huda, Desa Pakamban Laok, Kecamatan Pragaan, Kabupaten Sumenep. RKH Washil Imron selaku pengasuh Pesantren menjadi tuan rumah (shohibul bait) dalam Musyawarah Keluarga (Muskel) III. Sebelumnya, Muskel I digelar di Ponpes Gunungsari Proppo Pamekasan, di mana RKH Kholil Muhammad bertindak sebagai shohibul bait. Muskel II digelar di Surabaya.
Diantara tokoh Keturunan Walisongo yang hadir dalam Muskel III kemarin adalah :
1. RKH Kholil Muhammad Gunungsari, sebagai kasepuhan Bani Walisongo sekaligus Ketua Umum Perserikatan Bani Bhuju' (PBB);
2. RKH Abdul Hamid Madani Mansuhana, Bhuju' Rabah IX;
3. RKH Ali Fikri, Pengasuh Ponpes Annuqayah Lubangsa Guluk-guluk Sumenep;
4. RKH Ja'far Shodiq Fauzi, Pengasuh Ponpes Abu Syamsuddin Batuampar Pamekasan;
5. R Firman Syah Ali, Panglima Nahdliyin Bergerak (NABRAK);
6. R Ahmad Haryo Seta Wasesa Malang;
7. RKH Ahmad Washil Imron (shohibul bait);
8. R Hidrochin Sabaruddin Bangkalan (Budayawan);
9. R Ali Yusuf Ampel Surabaya;
10. RKH Abdul Hamid Suryodirjo, Munsib Madura Timur;
11. RB Moh Farhan Muzammil, dzurriyah Bindere Saot Tirtonegoro;
12. RB Deny Suryaningprang, dzurriyah Bindere Saot Tirtonegoro;
13. RB Rio Rahmad Adi, dzurriyah Bindere Saot Tirtonegoro;
14. R Rhiyananta C Yudi, dzurriyah Bindere Saot Tirtonegoro;
15. R Adam Muhshi Panotonagoro akademisi Unair;
16. R Nurul Yaqin, pegiat sejarah dari Sidoarjo;
17. R Zabidi, pegiat sejarah dari Surabaya;
18. R Asrul Sani, pegiat sejarah dari Gresik;
19. RM Alfan H, pegiat sejarah dari Malang;
20. RKH A Jamaluddin Gaddu Sumenep;
21. R Subki Abdul Hamid Muallim Sa'angan;
22. R Abdul Ghafur Konang Galis Pamekasan;
23. RKH Rafiq BJ Pakamban Sumenep;
24. dan puluhan tokoh lainnya.
Salah satu hadirin Muskel III, Firman Syah Ali menyampaikan bahwa musyawarah berjalan dengan lancar, dinamis dan solutif.
"Musyawarah Keluarga III sejak kemarin hingga tadi malam berjalan dengan lancar, dinamis dan solutif. Bertindak sebagai moderator, R Ali Yusuf dari Ampel dan notulen Dr R Adam Muhshi Panotonagoro dari Unair" ucap tokoh aktivis 98.
Ia menambahkan bahwa Muskel I hingga III dihadiri oleh para sejarawan, akademisi dan munsib.
"Muskel ini sudah berlangsung tiga kali, dengan dihadiri oleh para sejarawan, akademisi dan munsib sehingga hasil musyawarah tidak perlu diragukan oleh generasi penerus kelak" lanjut keponakan Mahfud MD.
Diantara hasil Muskel III adalah disepakatinya ibunda R Zainal Abidin (Sunan Cendana III).
"Muskel ini bertujuan mencari solusi bersama dari beberapa perbedaan alias versi dalam penulisan sejarah Bani Walisongo. Tadi malam, perbedaan versi tentang ibunda Sunan Cendana Kwanyar sudah berhasil dipersatukan. Musyawwirin sepakat ibunda Sunan Candana adalah Nyai Gede Kedaton. Nyai Gede Kedaton adalah Puteri R Wiryosastro (Sunan Kulon). Sunan Kulon adalah putera dari R Ainul Yaqin (Sunan Giri I), yang berarti saudara dari Sunan Dalem (Sunan Giri II)" lanjut Pengurus Pusat Asosiasi Dosen Pergerakan (ADP).
Namun katanya, tentang ayahanda Sunan Cendana belum ada kesepakatan.
"Tentang siapa ayahanda Sunan Cendana belum ada kesepakatan. Mungkin akan dibahas dalam Muskel IV di Canga'an Bangil setelah Idul Fithri. Namun gambaran sementara, ayahanda Sunan Cendana adalah Pangeran Pekik. Pangeran Pekik adalah putera dari Pangeran Jayalengkara. Pangeran Jayalengkara adalah adipati terakhir surabaya. Pangeran pekik yang berdarah Ampel dan Giri dipercaya oleh dinasti Mataram islam untuk menaklukkan dan mengakhiri Giri Kedaton untuk selamanya. Pangeran Pekik adalah ipar Sultan Agung Hanyokrokusumo dan kakek dari Sultan Amangkurat II. Dari Pangeran Pekik inilah untuk pertamakalinya Raja Mataram Islam berdarah Walisongo, yaitu Raden Mas Rahmat/Tejoningrat/Sunan Amangkurat II. Pangeran Pekik wafat dibantai sekeluarga oleh Sultan Agung Hanyokrokusumo pada tahun 1659" pungkas Pengurus Pusat Presidium Majelis Alumni IPNU.
Read more...