*Menyimak Aksi Solidaritas Pengemudi Ojol: Refleksi atas Duka, Keadilan, dan Masa Depan Kolektif*

Minggu, 31 Agustus 2025



Oleh : Akaha Taufan Aminudin 



Tulisan Denny JA tentang kematian Affan Kurniawan dan gelombang solidaritas pengemudi ojek online (ojol) membuka panggung diskusi mendalam tentang ketidakadilan sosial, ketangguhan komunitas gig economy, dan arah perubahan sosial di Indonesia. 


Dalam suasana penuh gejolak dan haru, kita diajak merenungkan tiga skenario masa depan solidaritas ini—apakah ia akan padam perlahan, bertumbuh menjadi gerakan kuat, atau melebur menjadi gelombang sosial nasional. Artikel ini mengajak pembaca tidak hanya terhenti pada duka, melainkan mengundang refleksi akan keberanian kita sebagai bangsa untuk menghadirkan perubahan nyata.


Ketika satu nyawa yang terenggut memecah keheningan bangsa, hendaknya kita bertanya: mengapa rasa kehilangan itu menyebar hangat dan mendalam? Begitulah yang diutarakan Denny JA dalam tulisannya tentang Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojol yang wafat tragis, namun menghadirkan solidaritas meluas ke berbagai kota. Apa yang menjadikan kisah Affan begitu ikonik sehingga bergaung hingga ke pelosok negeri?


Pada permukaan, kematian Affan adalah tragedi seorang pekerja yang terlanggar mesin besar kehidupan kota. Namun lebih jauh, ia menjelma menjadi simbol rapuhnya perlindungan bagi para pekerja gig economy—komunitas yang seringkali bergerak dalam bayang-bayang teknologi tanpa sandaran kepastian sosial. 


Solidaritas yang meledak di Surabaya, bergolak di Semarang, mencair dalam doa di Batu, atau bergema di Medan dan kota-kota lainnya, mengingatkan kita pada jaringan sosial yang membentang dalam dunia digital, sekaligus kesamaan pengalaman sosial yang menyatukan.


Dalam era di mana informasi berlalu-lalang secepat kilat melalui grup WhatsApp dan Telegram, kabar duka tak lagi hanya cerita melankolis, tapi menjadi trigger kolektif yang membuka ruang dialog dan aksi. Solidaritas ini, seperti catatan Denny JA, bisa jatuh ke dalam tiga skenario masa depan: sebagai nyala api yang meredup, membara menjadi gerakan sosial terorganisir, atau bahkan melebur dengan gelombang protes sosial yang lebih luas.


Skenario pertama memang realistis—seringkali gerakan spontan terkikis oleh kelelahan dan minimnya struktur. Namun bahkan dalam redupnya, Affan tetap hidup di dalam puisi, mural, dan ingatan kolektif, menjadi lambang makna yang tidak lekang oleh waktu. Marsinah di era 90-an menjadi contoh historis, dimana penderitaan seorang individu mampu menjadi kekuatan simbolik yang terus membara.


Skenario kedua menantang kita untuk beranjak dari protes emosional dan bertransformasi menjadi gerakan advokasi yang terorganisir. Di sinilah pentingnya pengakuan atas "upah minimum algoritmik" dan perlindungan sosial bagi para pekerja digital—bukan mimpi semu, tapi kebutuhan mendesak. Negara dan platform teknologi harus memikirkan kerangka hukum yang tidak hanya menghargai, tetapi melindungi. Balutan hukum dan jaring sosial adalah yang menguatkan figur kolektif tersebut.


Skenario ketiga adalah gambaran lebih radikal: meleburnya solidaritas ke dalam keresahan publik yang lebih besar, yang bisa mengguncang tatanan sosial dan politik nasional. Meski Prabowo diperkirakan masih bertahan di puncak kepemimpinan hingga 2029, ketegangan sosial di bawahnya menjadi sinyal peringatan. Apakah kita siap menghadapi gelombang perubahan yang tidak hanya menuntut keadilan bagi satu kelompok kecil, melainkan mendobrak ketimpangan yang sudah lama terpendam?


Bicara soal solidaritas bukan hanya soal ikut berduka, melainkan mengapresiasi peran rakyat kecil dalam merajut sejarah bangsa. Keberadaan mereka yang "di jalanan" seringkali dianggap sunyi dan terpinggirkan, namun sikap keberanian mereka justru membentuk denyut nadi perubahan sosial. Dalam konteks ini, kita dihadapkan pada refleksi kritis: apakah negara adalah pelindung yang hadir dan memberi napas, atau justru mesin besi yang mereduksi hak-hak dasar?


Sitiran Chairil Anwar, “Sekali berarti, sudah itu mati,” menjadi sindiran sekaligus harapan. Affan telah gugur, dan semangatnya sedang diuji di hadapan negeri ini: apakah hidupnya berarti saat ini dan masa depan? Apakah para pengemudi ojol, simbol gig economy yang melekat pada wajah modernitas, akan terus berjuang sebagai entitas mandiri yang mampu menuntut haknya?


Kematian Affan bernilai lebih dari duka lugu dan isak tangis; ia adalah panggilan bagi kita semua untuk lebih peka terhadap realitas sosial yang tersamar teknologi. Pemerintah didorong untuk menata ulang kerangka perlindungan melalui kebijakan konkret seperti asuransi kesehatan wajib dan regulasi upah yang adil. Sebab tanpa akar perlindungan yang kuat, gerakan solidaritas hanya akan seperti ombak kecil yang pecah di bibir pantai, hilang dan tak berdampak.


Mari kita melangkah lebih jauh dari sekadar empati dan protes simbolik. Melalui refleksi mendalam dan aksi kolektif yang terencana, kita bisa mewujudkan bahwa kematian Affan Kurniawan bukanlah aksi solidaritas yang mati di jalanan, tapi benih sebuah perubahan sosial yang akan terus tumbuh dan berdampak.


Penutup yang Menggugah:

Dalam dunia yang semakin digital dan penuh tantangan ketimpangan, solidaritas bukan sekadar kata-kata manis. Ia adalah energi kolektif yang merendahkan ego, membuka ruang dialog, dan menuntut keadilan nyata. Dari Surabaya hingga Makassar, dari doa hingga teriakan, mari kita renungkan bersama—apakah kita cukup mendengar dan bertindak? 


Sebab sejarah bangsa ini, pada akhirnya, ditulis bukan oleh elit saja, tapi oleh hati dan darah mereka yang ada di akar rumput.


Tulisan ini diharapkan membuka ruang diskusi dan menggugah perhatian banyak pembaca mengenai isu sosial yang kian relevan. Bagikan jika Anda merasa solidaritas tidak hanya perlu dipandang lewat mata duka, melainkan aksi nyata yang membangun!



Sabtu Wage 30 Agustus 2025 

Akaha Taufan Aminudin

Sisir Gemilang Kampung Baru Literasi SIKAB Himpunan Penulis Pengarang Penyair Nusantara HP3N Kota Batu Wisata Sastra Budaya SATUPENA JAWA TIMUR 


Referensi Tambahan:

Sidney Tarrow, Power in Movement: Social Movements and Contentious Politics, Cambridge University Press, 2011. 

Benedict Anderson, Imagined Communities: Reflections on the Origin and Spread of Nationalism, Verso, 2006.

Denny J.A's World

Read more...

Kemenag Himbau Civitas Akademika Perguruan Tinggi Keagamaan dan Ma’had Aly Manfaatkan Dana Riset LPDP.

 TULUNGAGUNG—Kementerian Agama melalui Pusat Pembiayaan Pendidikan Agama Dan Pendidikan Keagamaan (PUSPENMA), Setjen Kementerian Agama RI menghimbau kepada civitas akademika Perguruan Tinggi Keagamaan dan Ma’had Aly untuk memanfaatkan dana riset kolaboratif Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).



Hal itu dikatakan Kepala PUSPENMA Sekretariat Jenderal Kementerian Agama Ruchman Basori saat melakukan sosialisasi Mora the Air Funds 2025 di UIN Sayyid Ali Rahmatullah (UIN SATU) Tulungagung, pada Jumat, (29/08) di Ruang Sidang Lantai 3.


Mora the Air Funds, merupakan program Riset Indonesia Bangkit Kolaborasi Kementerian Agama Dengan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan RI, dikalangan Kemenag untuk para dosen Perguruan Tinggi Keagamaan (PTK) dan Ma’had Aly.


Program ini secara operasional pendanaan, ditangani oleh PUSPENMA dan secara kebijakan riset oleh Direktorat Pendidikan Tinggi Islam (Diktis) Direktorat Jenderal Pendidikan Islam. “Selain menangani Program Indonesia Pintar (PIP) pada Pendidikan Dasar Dan Menengah Keagamaan, Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-Kuliah), Bantuan beasiswa non gelar dan insvestasi dan pembiayaan pendidikan, Puspenma juga menangani Bantuan Riset Kolaboratif (MoRA The Air Funds).


Dihadapan pimpinan UIN SATU Tulungagung dan para dosen, Ruchman Basori menyampaikan tujuan Mora the Air Funds, yaitu meningkatkan pengembangan kualitas sumber daya riset yang inovatif dan kontributif bagi keilmuan, masyarakat dan daya saing bangsa; "Meningkatkan dan mengembangkan keilmuan pada Perguruan Tinggi Keagamaan, berbasis riset, sehingga lebih inovatif dan berdampak pada kehidupan masyarakat dan kebangsaan”, juga tujuan lainnya terang Ruchman yang juga Alumni UIN Walisongo. 


Tujuan yang tak kalah pentingnya dari MoRA The Air Funds lanjut Aktivis Mahasiswa 1998 ini adalah untuk memperbanyak hasil riset dalam bentuk hak kekayaan intelektual, publikasi ilmiah buku oleh penerbit internasional, publikasi jurnal ilmiah bereputasi internasional, dan produk/teknologi/model yang dapat dihilirisasi, bekerjasama dengan dunia usaha dan dunia industri (dudi) yang berdampak nyata secara ekonomi dan sosial;


Ada empat tema central Mora the Air Funds, yaitu sosial humaniora, ekonomi dan lingkungan, kebijakan layanan pendidikan dan Keagamaan, dengan maksimal anggaran Rp. 500.000.000,- (limaratus juta rupiah) dan tema sains dan teknologi dengan maksimal anggaran 2.000.000.000 (dua milyard rupiah).


Rektor UIN SATU Tulungagung Prof. Dr. Abdul Aziz, M.Ag menyambut baik program riset kolaboratif MoRA The Air Fund PUSPENMA. “Program MoRA The Air Fund merupakan program strategis, para dosen harus memanfaatkan dana riset ini, untuk meningkatkan kualitas dan kapasitas riset“, katanya.


“Dosen-dosen UIN SATU, insya Alloh siap berkolaborasi memanfaatkan karena ini kesempatan emas di tengah anggaran riset yang selama ini sangat terbatas”, kata Abdul Aziz.


Syarat-syarat periset utama Adalah (1). Warga Negara Indonesia, (2). Berasal dari perguruan tinggi keagamaan (PTK), Memiliki rekam jejak akademik baik; (3). Memiliki kualifikasi akademik doktor (S3) dengan jenjang kepangkatan paling rendah Lektor; (4). Memiliki sinta score overall minimal 50 (lima puluh) dan (5). Diutamakan berkolaborasi dengan periset dari perguruan tinggi dalam dan/atau luar negeri, yang masuk peringkat 500 dunia berdasarkan qs world university rankings.


Sementara untuk Periset Utama bagi dosen Ma’had Aly Adalah (1). WNI; (2). Rekam jejak akademik baik; Memiliki kualifikasi akademik minimal magister (S2) Surat Keputusan pengangkatan dosen yang dikeluarkan oleh Mudir Ma’had Aly, dan pakta integritas, Mendapatkan rekomendasi dari majelis masyayikh dan Memiliki karya akademik sesuai takhassus keilmuan ma’had aly dan berbahasa arab;


Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (LP2M) UIN SATU Prof. Dr. Ngainun Naim, M.Ag berkomitmen agar para dosen periset yang berada dibawah kewenangannya untuk ikut ambil bagian dalam riset kolaboratif yang keren ini. “Kami akan segera sosialisasi dan ajak para dosen untuk segera menulis proposal sesuai pedoman dan Juknis MoRA The Air Fund”, kata Ngainun.


PUSPENMA akan membuka pendaftaran MoRA The Air Fund Tahun 2025 pada awal September untuk menjaring periset-periset, tidak hanya dari kalangan PTKI, tetapi juga PTK pada Ditjen Bimas Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, Konghucu dan juga entitas Ma’had Aly.


Anggaran yang disiapkan untuk tahun 2025 adalah 50 milyard dan tahun 2026 50 milyadr. Sebelumnya pada tahun 2024 juga 50 milyard.*Imam Kusnin Ahmad*

Read more...

Transformasi Tata Kelola Haji Melalui Kementerian Haji dan Umroh. r


Oleh : Babun Suharto

Dosen UIN KHAS Jember.



SURABAYA-Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI secara resmi mengesahkan Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Perubahan Ketiga atas UU Nomor 8 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji dan Umrah menjadi Undang-Undang (UU). Dengan pengesahan ini, Badan Penyelenggara (BP) Haji kini resmi ditingkatkan statusnya menjadi Kementerian Haji dan Umrah.


Langkah tersebut perlu kita apresiasi sebagai langkah strategis untuk lebih mengoptimalkan tata kelola dan layanan haji dan umroh di republik ini. Secara substansi, regulasi yang mengantarkan pada pembentukan Kementerian baru yaitu Kementerian Haji dan Umroh adalah optimalisasi pelayanan, pengawasan, dan tata kelola haji dan umroh yang responsif terhadap kebutuhan Jemaah dari seluruh pelosok negeri.


Selama ini, tidak dapat dihindari, pelbagai problem terus terjadi dalam pelaksanaan haji, baik secara substantif maupun dalam bentuk administratif. Beberapa persoalan, misalnya berkaitan dengan antrean panjang, keterbatasan kuota, serta perlunya peningkatan kualitas layanan di Tanah Suci. Pada persoalan-persoalan lainnya, transparansi kemudian juga menjadi persoalan yang harus diperbaiki.


Sebagaimana diketahui, Kementerian baru ini merupakan perubahan nama Badan Penyelenggara Haji (BP Haji) yang dibentuk Presiden Prabowo Subianto pada awal pemerintahannya. BP Haji mendapat mandat untuk mengelola ibadah haji mulai 2026, menggantikan tugas yang selama ini dijalankan Kementerian Agama. Dengan demikian, pola kerja akan lebih fokus pada optimalisasi penyelenggaraan haji dan umroh setiap tahunnya. Pola koordinasinya juga dapat dijalankan lebih mudah, mengingat kemeterian ini akan berfungsi dan menjalankan tugas pokok fungsinya hanya berkaitan dengan tata kelola haji dan umroh. Jika dulu Kementerian Agama mengurusi banyak hal, termasuk pendidikan Islam, bimbingan masyarakat, penelitian dan pengembangan keagamaan, termasuk juga persoalan haji, maka kini persoalan haji akan diurusi oleh satu Kementerian saja.


Penguatan kelembagaan ini adalah langkah terobosan yang sangat baik, utamanya dalam memperbaiki ekosistem tata kelola haji dan umroh. Kementerian ini dapat berlari kencang untuk menyelesaikan beberapa persoalan krusial, misalnya belum optimalnya pemanfaatan kuota haji, lemahnya pembinaan jamaah, ketiadaan perlindungan bagi jamaah non-kuota, serta belum adanya mekanisme pembahasan biaya haji saat terjadi kenaikan. Pada persoalan lainnya, Kementerian ini dapat segera untuk memperbaiki dan meningkatkan sistem informasi penyelenggaraan agar terbangun satu sistem terpadu dan berada dalam satu atap. 


Hal yang paling mendasar pula, adalah persoalan pelayanan, termasuk menyangkut peningkatan pelayanan kepada jemaah di bidang akomodasi, konsumsi, transportasi, hingga kesehatan, baik di tanah air maupun di Tanah Suci. Beberapa langkah strategis juga perlu dilakukan untuk meningkatkan kepercayaan publik terhadap penyelenggaraan dan tata kelola haji. Yang paling utama adalah akuntabilitas dan transparansi dalam seluruh proses, mulai sejak pendaftaran, hingga antrean dan kemudian pemberangkatan, serta proses selama pelaksanaan ibadah haji, dan sampai kepulangan ke tanah air. 


Dalam rangkaian proses pelaksanaan  ibadah haji di tanah suci, misalnya berkaitan dengan pembayaran dam (denda). Pada persoalan lainnya, misalnya berkaitan dengan biaya badal haji. Maka, perlu diperjelas mekanismenya. Tentu diperlukan regulasi yang kuat agar dapat menjadi pedoman bagi seluruh pihak, mengingat berkaitan dengan pembayaran, maka isunya sangat liar dan mudah jadi fitnah.


Ala kulli hal, transformasi kelembagaan Badan Penyelenggara (BP) Haji menjadi Kementerian Haji dan Umrah perlu kita apresiasi sebagai langkah strategis untuk lebih mengoptimalkan tata kelola dan layanan haji dan umroh di republik ini. Harus kita fahami bersama, regulasi yang mengantarkan pada pembentukan Kementerian baru yaitu Kementerian Haji dan Umroh adalah optimalisasi pelayanan, pengawasan, dan tata kelola haji dan umroh yang responsif terhadap kebutuhan Jemaah dari seluruh pelosok negeri.


Penulis Babon Suharto Dosen UIN KHAS Jember. *Imam Kusnin Ahmad*

Read more...

Kemarahan rakyat

 Dr.Ir. HADI PRAJOKO SH, MH

Gempa sosial Yg sudah pada puncaknya penderitaan rakyat, dimana gap jarak sosial ekonomi antara rakyat dan kaum hedonistik yg menjadi kartel kartel penguasa pemerintahan dan cukong-cukong Mafia, membuat satu pembunuhan masal atas jiwa' jiwa' kosong akibat kemiskinan, dengan kondisi seperti itu sulit untuk Bisa mengetahui kemana arus balik kemarahan sosial itu, mereka tidak Bisa makan mati tetapi bila demo ditembak polisi juga mati, terus menerus untuk merubah kondisi sosial ekonomi seperti ini belum ada jalan keluarnya sehingga mereka mengambil posisi lebih baik' mati ditembus pelor peluru dari pada mati kelaparan oleh karena itu perlu dilakukan satu ritual ke-bangsa-an karena ini adalah diluar batas batas spiritual keagamaan, alam semesta melakukan proses antibodi untuk memperbaiki culture semesta.


Senyampang perubahan sosial dan arus b


esar serta 

Puncak penderitaan rakyat Indonesia dapat dilihat dari beberapa aspek, seperti kesenjangan sosial dan ekonomi yang semakin melebar, kemiskinan, dan ketidakadilan. Berikut beberapa akibat dari puncak penderitaan rakyat ¹:


*Kerusuhan dan Demonstrasi*


- Gelombang kemarahan rakyat dapat meledak dalam bentuk demonstrasi dan kerusuhan, seperti yang terjadi pada Agustus 2025, ketika tragedi meninggalnya Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek online yang dilindas kendaraan taktis Brimob, memicu gelombang demonstrasi dan kerusuhan di berbagai wilayah Indonesia.

- Demonstrasi ini seringkali dipicu oleh isu-isu seperti gaji dan tunjangan anggota DPR RI yang dianggap terlalu berlebihan oleh publik.


*Kehilangan Kepercayaan terhadap Institusi*


- Puncak penderitaan rakyat dapat menyebabkan kehilangan kepercayaan terhadap institusi pemerintah dan lembaga-lembaga lainnya.

- Ini dapat dilihat dari reaksi masyarakat terhadap pernyataan anggota DPR yang dinilai arogan dan tidak empatik terhadap penderitaan masyarakat.


*Kekerasan dan Kerusakan*


- Puncak penderitaan rakyat juga dapat menyebabkan kekerasan dan kerusakan, seperti yang terjadi pada demonstrasi di Makassar yang berakhir ricuh dan menyebabkan kerusakan pada fasilitas umum.


*Perubahan Sosial dan Politik*


- Puncak penderitaan rakyat dapat menyebabkan perubahan sosial dan politik yang signifikan, seperti perubahan kebijakan pemerintah dan pergeseran kekuatan politik.

- Ini dapat dilihat dari peran Sultan HB X dalam meredam amarah massa demonstran dan menunjukkan kepemimpinan yang dekat dengan rakyat.


Dalam analisis scientifik, puncak penderitaan rakyat dapat dipahami melalui teori-teori tentang struktur sosial dan kekuasaan, seperti teori strukturalis dan post-strukturalis. Teori strukturalis berpendapat bahwa struktur sosial dan kekuasaan dapat mempengaruhi distribusi sumber daya dan kesempatan ekonomi, sementara teori post-strukturalis berpendapat bahwa kesenjangan sosial dan ekonomi dapat dipahami melalui analisis kompleksitas dan ketidakpastian dalam sistem sosial dan ekonomi ².

Read more...

Kadisdikbud Indramayu Jadi Pembina Upacara di SMPN 3 Sindang, Ajak Siswa Bersyukur danTaat Aturan



Indramayu, menaramadinah.com- 1 September 2025 – Suasana pagi di SMPN 3 Sindang terasa berbeda dari biasanya. Ratusan siswa berdiri khidmat mengikuti upacara bendera, yang kali ini mendapat kehormatan istimewa dengan hadirnya Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Kadisdikbud) Kabupaten Indramayu, Dr. H. Caridin, M.Si., sebagai pembina upacara.



Dalam amanatnya, Dr. H. Caridin, M. Si. mengajak agar bersyukur anak-anak bisa bersekolah, karena tidak semua anak bisa diterima di sekolah negeri. Bahkan ada anak yang masih tidak bisa bersekolah, karena harus membantu orang tuanya bekerja di laut, di sawah atau menjadi pemulung di luar kota. 


> “Kalian harus menjadi pelajar yang baik. Pelajar yang taat aturan. Taat pada orang tua dan guru. Sehingga kelak menjadi orang yang berguna. Orang yang sukses dan dibutuhkan di kemudian hari.,” tegasnya.


Lebih lanjut, Kadisdikbud mengajak jangan sampai ada anak yang membolos dari sekolah. Anak yang berangkat dari rumah namun tidak sampai ke sekolah. Jangan sampai mengecewakan orang tua dan guru. Guru akan sangat senang di kemudian hari, saat tahu kalian telah menjadi orang yang sukses. 


Sementara itu, Kepala SMPN 3 Sindang, Hj. Ani Hanifah, M.Pd., menyampaikan rasa bangga dan terima kasih atas kunjungan Kadisdikbud. Menurutnya, kehadiran pimpinan tertinggi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Indramayu menjadi motivasi besar bagi guru dan siswa.


> “Kehadiran Bapak Kadis menjadi energi positif bagi keluarga besar SMPN 3 Sindang. Ini bukan hanya kehormatan, tetapi juga dorongan bagi kami untuk terus berinovasi, berprestasi, dan menjaga nama baik sekolah,” ujarnya.


Hal senada juga disampaikan oleh Ketua OSIS SMPN 3 Sindang, Kania Nada Syariefa. Ia merasa bangga karena sekolahnya mendapat kesempatan istimewa menjadi tempat penyampaian amanat langsung dari Kadisdikbud.


> “Kami sangat terinspirasi dengan pesan Bapak Kadis. Beliau mengingatkan kami bahwa generasi muda punya peran penting dalam pembangunan bangsa. Kami sebagai pelajar akan berusaha bukan hanya berprestasi di sekolah, tapi juga menjadi contoh dalam sikap dan perilaku di masyarakat,” ungkap Kania dengan penuh semangat.


Upacara berlangsung dengan khidmat dan penuh antusiasme. Para siswa tampak menyimak dengan serius setiap pesan yang disampaikan. Momentum ini diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran baru di kalangan pelajar SMPN 3 Sindang untuk semakin aktif berkontribusi menjaga kondusivitas, prestasi, serta semangat kebangsaan.


Sujaya

Read more...

Presiden Prabowo Kumpulkan Ketum Parpol di Istana, Bahas Dinamika DPR dan Aspirasi Publik

 JAKARTA - Presiden Prabowo Subianto menggelar pertemuan bersama sejumlah ketua umum partai politik dan anggota Kabinet Merah Putih di Istana Kepresidenan Jakarta, Minggu (31/8) siang.



Pertemuan tersebut dinilai sebagai langkah konsolidasi politik sekaligus membahas isu-isu hangat di tengah dinamika nasional.


Sejumlah tokoh politik mulai tiba di Kompleks Istana melalui Pintu Pilar sejak pukul 11.00 WIB. Ketua MPR yang juga Sekjen Partai Gerindra Ahmad Muzani tercatat menjadi tokoh pertama yang hadir sekitar pukul 11.12 WIB.


Tak lama berselang, Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat sekaligus Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar, serta perwakilan Partai Demokrat Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) juga tampak memasuki area Istana.


Kehadiran Ibas dilakukan atas mandat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang tengah menjalani penugasan resmi ke China.


Selain para ketua umum partai, hadir pula Penasihat Khusus Presiden Bidang Politik dan Keamanan, Wiranto. Kehadiran sejumlah figur penting ini memperkuat spekulasi bahwa Prabowo tengah mengonsolidasikan dukungan politik lintas partai dalam menghadapi situasi nasional.


Muhaimin Iskandar atau Cak Imin kepada awak media menegaskan bahwa kedatangannya ke Istana untuk menghadiri dua agenda penting, yakni pertemuan dengan Presiden Prabowo serta rapat kabinet.


“Hari ini saya bersama siapa saya nggak tahu, pokoknya akan ada pertemuan dengan presiden. Terus yang kedua, nanti akan ada rapat kabinet,” ujar Cak Imin yang Ketum PKB ini.


Lebih lanjut, mantan Capres  no 1 2024 ini, menyinggung isu yang tengah ramai diperbincangkan, yakni sorotan publik terkait tunjangan anggota DPR.


Menurutnya, momentum ini harus dijadikan kesempatan untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kinerja lembaga negara, baik legislatif maupun eksekutif.


“Tentu saja ini menjadi momentum untuk kita semua melakukan evaluasi sekaligus mereformasi diri masing-masing. Semua lembaga harus benar-benar memahami aspirasi masyarakat yang menuntut solidaritas,” kata Cak  Imin 


Pertemuan di Istana Presiden ini menandai langkah awal pemerintahan Prabowo dalam membangun komunikasi intensif dengan partai politik.


Konsolidasi ini diperkirakan akan semakin menguat menjelang penandatanganan berbagai agenda strategis nasional.*Imam Kusnin Ahmad*

Read more...

Wisudhan Abdidalem Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat



Solo-menaramadinah.com-Wilujengan Tingalan Jumenengan dan Wisudhan Abdidalem Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat di nDalem Wuryoningratan, Solo, pada hari Ahad 31 Agustus 2025 beberapa pengurus Garda Walisongo Mojokerto Raya mendapatkan gelar kekancingan diantara nya Ahmad Mukhibudin Aminoto, Wahyu Harjono, Sucipto Hadi Riyanto, Yusuf Mariono, Andika Zakaria.



Dalam Wisudhan Abdidalem mereka mendapatkan kekancingan yang berbeda dari mulai Mas Ngabehi, Raden Ngabehi, Raden Tumenggung hingga Kanjeng Raden Tumenggung sesuai dengan pengabdian nya masing-masing di masyarakat.


Semua wisudhan ini tidak begitu saja bisa mendapatkan kekancingan terlebih harus mendapatkan persetujuan rekom dari KPH Adipati Amarta Wangsanagara selaku pengageng Reh Wongsonegaran.


Para pengurus Garda Walisongo Mojokerto Raya berangkat dari Mojokerto untuk menuju nDalem Wuryoningratan sempat beristirahat di nDalem Pakoenagaran untuk mendapatkan pengarahan dari KPH Adipati Amarta Wangsanagara, diantara tokoh masyarakat pegiat adat budaya dari Mojokerto ini ada Gus Imam Mahmudi juga ada Ki Purbo dan yang lainnya...

Semoga amanah dan penghargaan dari Sinoehoen Tedjowoelan ini bisa kami jaga selalu, "kata Minotodipuro, ucap nya"


Rekso

Read more...

About This Blog

Blog Archive

  © Blogger template On The Road by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP