Silent Tourism Mulai Muncul di Indonesia,Hadir Wisata Bisu di Jatim
Kamis, 12 Februari 2026
Kediri-Tren wisata global berbasis keheningan atau silent tourism mulai menunjukkan geliat di Indonesia. Konsep wisata yang menekankan pengalaman hening, refleksi diri, dan kesadaran batin ini sebelumnya berkembang di berbagai negara sebagai respons atas kejenuhan manusia modern terhadap kebisingan dan tekanan era digital.
Dalam beberapa tahun terakhir, silent tourism menjadi bagian dari gaya hidup baru masyarakat global. Wisatawan tidak lagi semata-mata mencari hiburan dan keramaian, melainkan pengalaman yang memberi ruang jeda, ketenangan, serta pemaknaan diri.
Di Jepang, praktik wisata hening berkembang melalui meditasi Zen dan silent walk di kuil-kuil kuno. Di Eropa dan Rusia, silent retreat di alam terbuka digunakan sebagai sarana kontemplasi dan ketahanan mental. Sementara di Amerika Serikat, konsep digital detox tourism tanpa gawai dan minim suara banyak diminati kalangan profesional dan eksekutif teknologi.
“Wisata bisu sebenarnya bukan hal yang baru di dunia. Saya pernah ketemu saudara yang mengunjungi piramida di Mesir, di sana ternyata saat kita masuk tidak boleh berbicara alias bisu,” kata Kushartono Pimpinan Program Wisata Bisu Pendidikan Karakter Jati Diri Bangsa Trasformasi Koesno Menjadi Soekarno. Minggu (13/02/2026).
Menurut Kus, sekalipun ini bukan hal yang baru namun wisata jenis seperti ini masih sangat minim. Dan saat ini sangat diperlukan.
“Kondisi global saat ini, di mana manusia hidup dalam tekanan informasi yang terus-menerus, ritme kerja cepat, serta dominasi teknologi digital dalam kehidupan sehari-hari.
Jadi silent tourism yang kita kembangkan saat ini adalah bentuk evolusi wisata kuno dan modern. Jika banyak wisata identik dengan hiburan dan keramaian, kini keheningan justru dipandang sebagai nilai tambah,” pungkas Pria yang juga Sekjen Perkumpulan Instruktur Pegiat Jati Diri Bangsa.*sur


0 komentar:
Posting Komentar