Bung Karno Lahir di Jombang
Minggu, 15 Februari 2026
Tempat kelahiran Presiden pertama Republik Indonesia Soekarno, kembali menjadi polemik yang memanas. Pemerhati sejarah Jombang, Arif Yulianto atau Cak Arif, beberkan sejumlah arsip kolonial yang ia klaim kuat bahwa Bung Karno lahir pada 6 Juni 1902 di Ploso, wilayah yang kini masuk Kabupaten Jombang.
Penting memahami konteks administratif saat itu menurut Cak Arif, pada 1902, Kabupaten Jombang belum berdiri.
Diketahui wilayah Ploso masih tercatat sebagai bagian dari Karesidenan Surabaya.
Menurutnya, Kabupaten Jombang sendiri baru resmi berdiri pada 1910, ditandai dengan dilantiknya bupati pertama, R.A.A Soeroadiningrat V atau Kanjeng Sepuh Jombang.
"Jadi ketika arsip menyebut Surabaya, itu merujuk pada Karesidenan Surabaya. Ploso saat itu memang masuk wilayah administratif Surabaya," kata Cak Arif, pada Minggu (14/2/2026).
Ia menunjukkan dokumen besluit (Surat Keputusan) tertanggal 28 Desember 1901 yang berisi penugasan ayah Bung Karno, Raden Soekeni Sosrodihardjo, sebagai Mantri Guru Sekolah Ongko Loro di Ploso, Surabaya.
"Raden Soekeni mulai bertugas di Ploso pada 28 Desember 1901," jelasnya.
Arif menambahkan, bahwa dalam waktu Enam bulan setelah penugasan tersebut, tepatnya 6 Juni 1902, Soekarno lahir.
Lebih lanjut, Raden Soekeni tercatat berdinas di Ploso hingga 1907 sebelum dipindahkan ke Sidoarjo, yang juga dibuktikan melalui arsip resmi.
Tidak hanya itu, Cak Arif mengaku memiliki catatan tulisan tangan Raden Soekeni yang menyebut tanggal kelahiran Soekarno pada 6 Juni 1902.
Data lain yang diajukan adalah arsip pendidikan di Technische Hoogeschool te Bandoeng, kini dikenal sebagai Institut Teknologi Bandung. Dalam arsip tersebut, tercatat Raden Soekarno lahir di Surabaya pada 6 Juni 1902.
Cak Arif juga mengatakan, terkait penyebutan “Surabaya” dalam arsip itu kembali merujuk pada wilayah administratif Karesidenan Surabaya yang mencakup Ploso.
"Surabaya yang dimaksud adalah Ploso, bagian dari Karesidenan Surabaya saat itu," tegasnya.
Arif juga mengutip laporan pekerjaan sipil Hindia Belanda tahun 1894 yang menyebut sejumlah desa, seperti Toeri (Turi), Semanden, Goemoelan, Kedoengboto, Djoembatan, Potjokredjo, hingga Woeloeh, sebagai bagian dari Surabaja. Desa-desa tersebut kini masuk wilayah Kabupaten Jombang.
Dalam dokumen tersebut memuat kalimat: “In Surabaja heeft men in den rechter Brantasdijk de volgende irrigatiesluizen,” yang merujuk pada pembangunan saluran irigasi di wilayah Surabaya sisi kanan Sungai Brantas.
Dengan penegasan itu, juga sejalan dengan narasi dalam buku biografi Bung Karno Penyambung Lidah Rakjat Indonesia karya Cindy Adams terbitan 1966.
Buku tersebut disebutkan bahwa ayah Bung Karno dipindahkan ke Surabaja dan di sanalah “putra sang fajar” dilahirkan.
"Yang dimaksud Surabaja di sini adalah Ploso, yang saat itu masuk Karesidenan Surabaya dan kini menjadi bagian dari Kabupaten Jombang," pungkasnya.
Melalui paparan arsip tersebut, perdebatan mengenai titik kelahiran Bung Karno kembali menemukan babak baru, antara penyebutan administratif kolonial dan batas wilayah modern yang kini berbeda. (pikiranrakyat)
#gresiksumpek #jombang #news #blitar #bungkarno


0 komentar:
Posting Komentar